Selasa, 11 November 2014

Novel Padang Bulan

 



1.      Judul buku      : Padang Bulan
2.      Penulis buku    : Andrea Hirata
3.      Penerbit           : Bentang
4.      Tahun terbit     : 2010
5.      Cetakan           :
-Cetakan pertama, Juni 2010
-Cetakan kedua, Agustus 2010
-Cetakan ketiga, Agustus 2010
6.      Tebal buku      : xiv + 253 hlm
7.      ISBN               : 978-602-8811-09-5

Ringkasan novel Padang Bulan karya Andrea Hirata
Padang Bulan
Menjelang tengah hari, sebuah mobil pikap berhenti  di depan rumah. Dua lelaki mengangkat benda yang di bungkus dengan terpal dari bak mobil itu dan membawanya masuk ke dalam rumah. Syalimah bertanya-tanya. Mereka tak mau jawab.
“Malam ini ada pasar malam di Manggar, Mak Cik,” kata salah seorang lelaki itu sambil tersenyum.
Syalimah memandangi benda itu dengan gugup, tapi gembira. Yang dimaksud kejutan oleh suaminya, Zamzani, pasti benda itu. Ternyata kejutan menimbulkan sebuah perasaan gembira tak terkira. Sekarang ia paham mengapa orang-orang kaya menyukai kejutan.
Perlahan pasti Syalimah meraba terpal yang menutupi benda itu bermaksud membukanya. Berulang kali Syalimah memutuskan tidak membukanya sampai sang suami pulang namun rasa penasarannya tak tertahankan. Ia memberanikan diri. Ia memejamkan mata dan menarik terpal. Ia membuka matanya dan terkejut tak kepalang melihat sesuatu berkilauan : sepeda Sim King made in RRC!
Syalimah hening. Zamzani ternyata memendam apa yang ia katakan saat hamil anak meraka keempat. Berbonceng bersama ke pasar malam seperti yang ayah Syalimah lakukan bersamanya dulu. Ia terharu. Bahkan itu bukanlah sebuah permintaan. Syalimah lantas hilir mudik di dapur berpikir bagaimana membagi anak-anaknya pada tiga sepeda. Untuk pergi bersama sekeluarga ke pasar malam.
Kemudian Syalimah tak sabar menunggu suaminya pulang. Ia berdiri di ambang jendela, tak lepas memandangi langit yang mendung dan ujung jalan yang kosong. Syalimah gembira melihat seseorang bersepeda dengan cepat. Jika orang itu—Sirun—telah pulang, pasti suaminya segera pula pulang. Namun, Sirun berbelok menuju rumah Syalimah dengan tergesa-gesa. Buruh kasar itu langsung masuk dan dengan gemetar mengatakan bahwa telah terjadi kecelakaan. Zamzani tertimbun tanah. Napasnya tercekat. Sirun memintanya menitipkan anak-anaknya dan mengajaknya ikut ke tambang.
Sampai di sana, Syalimah mendengar orang berteriak-teriak panik dan menggunakan alat apa saja untuk menggali tanah yang menimbun Zamzani. Syalimah berlari dan bergabung dengan mereka. Ia menggali tanah dengan tanganya sambil tersedak-sedak memanggil-manggil suaminya. Keadaan menjadi semakin sulit karena hujan turun. Tanah yang menimbun Zamzani berubah menjadi lumpur. Para penambang berebut dengan waktu. Jika terlambat, Zamzani pasti tak tertolong dan Zamzani mulai masuk saat-saat tak tertolong itu. Syalimah menggali seperti orang lupa diri sambil menangis, sampai ujung-ujung jarinya berdarah. Ia berharap Zamzani tertimbun dalam keadaan tertelungkup. Penambang yang tertimbun dalam keadaan telentang tak pernah dapat diselamatkan. Galian semakin dalam, Zamzani belum tampak juga. Tiba-tiba Syalimah melihat sesuatu. Ia menjerit.
“Ini tangannya! Ini tangannya!”
Orang-orang menghambur ke arah tangan itu. Syalimah gemetar karena tangan yang menjulur itu terbuka. Suaminya telah tertimbun dalam keadaan telentang. Para penambang cepat-cepat menarik Zamzani. Ketika berhasil ditarik, lelaki kurus itu tampak seperti tak bertulang. Zamzani diam tak bergerak. Semuanya telah terlambat.
Syalimah tersedu sedan. Ia bersimpuh di samping Zamzani yang telah mati. Ia mengangkat kepala suaminya ke atas pangkuannya. Kepala itu terkulai seperti ingin bersandar. Syalimah membasuh wajah Zamzani dengan air hujan, lalu tampak seraut wajah yang pias dan sepasang mata yang lugu. Syalimah mendekap lelaki penyayang itu dan meratap-ratap memanggil-manggil suaminya.
***
Anak pertama keluarga itu adalah Enong (panggilan bagi anak tertua anak melayu). Enong duduk di kelas enam SD dan merupakan siswa cerdas. Enong menyukai pelajaran bahasa Inggris dan cita-citanya ingin menjadi seorang guru bahasa Inggris seperti Bu Nizam.
Zamzani amat bangga dengan cita-cita Enong. Sering kali Enong berbicara soal kamus bahasa Inggris. Ia tahu, putrinya ingin sekali punya kamus. Sebaliknya, Enong yang masih kecil paham bahwa ayahnya miskin. Ia tak pernah minta di belikan kamus, tak pernah minta di belikan apa pun.
Zamazani sendiri pernah melihat pedagang kaki lima di Tanjong Pandan kamus yang sangat hebat. Kamus itu adalah Kamus Bahasa Inggris Satu Miliar Kata. Zamzani berniat membelikan putrinya kamus itu. Ia berkerja lebih keras. Dan setelah berbulan-bulan, akhirnya Zamzani punya uang lebih. Zamzani pun mengatakan pada Enong akan memebelikannya Kamus Bahasa Inggris Satu Miliar Kata.
Zamzani segera mengajak Sirun ke Tanjong Pandan. Senangnya Zamzani mendapati kamus itu masih ada di padagang kaki lima buku bekas itu. Terbayang olehnya sinar mata anaknya nanti jika menerima kamus itu.
Zamzani sempat heran melihat kamus itu ternyata ringan dan tipis saja. Namun dalam hatinya adalah hanya betapa senagnya Enong menerima kamus itu. Sang pedagang kaki lima itu menyarankan Zamzani agar membukus kamus itu dengan sampul yang cantik dan menuliskan kata-kata di halaman muka. Di bantu oleh pedagang itu, Zamzani akhirnya menemukan kaliamt yang tepat untuk di tuliskannya pada halaman muka kamus.
Sementara itu Enong cemas menunggu Ayahnya pulang dengan membawa kamus yang ia impi-impikan. Ketika ayahnya tiba, ia menyongsongnya di pekarangan. Ia melonjak-lonjak senang menerima kamus itu.
Zamzani gembira karena pendapat padagang kaki lima itu semuanya benar. Enong membukanya dan menemukan tulisan itu. Ia membacanya.

Buku ini untuk anakku, Enong.
Kamus satu miliar kata.
Cukuplah untukmu sampai bisa menjadi guru bahasa Inggris seperti Ibu Nizam.
Kejarlah cita-citamu, jangan menyerah, semoga sukses.

Tertanda,
Ayahmu


Enong terdiam, lau ia menangis untuk sebuah alasan yang tak ia mengerti.

***
Sirun pun diutus untuk mejemput Enong di sekolah. Bu Nizam tengah megajar bahasa Inggris ketika Sirun tiba. Ia terkejut mendengar berita buruk itu.
Sirun sedih melihat Enong yang tengah menekuni bukunya dengan tekun. Ia mendekatinya. Seisi kelas memperhatikannya. Enong bertanya mengapa ia di ajak pulang. Sirun tak tega menyampaikan apa yang telah terjadi.
Enong bergeming. Ia tak mau pulang. Sirun mendesaknya berkali-kali.
“Harus ada alas an, Pak Cik,” ujar Enong dengan jenaka. Pendapat itu disambut riuh persetujuan teman-temannya. Ia kemudian mengatakan bahwa betapa menariknya pelajaran bahasa Inggris yang tengah diajarkan oleh Bu Nizam.
“Pelajaran tentang anggota keluarga, Pak Cik,” ia memberi contoh.
Mother artinya ibu, father—ayah, daughter—anak perempuan, son—anak laki-laki.” Kawan-kawannya tertawa melihatnya menjelaskan bahasa Inggris pada seorang kuli tambang. Sirun membujuknya lagi. Enong tetap tak mau. Sirun tak punya pilihan lain.
“Kau harus pulang, Nong, ayahmu meninggal.”
Enong tersentak. Seisi kelas diam. Senyap. Wajah Enong pucat.
Enong menangis. Air matanya berjatuhan di atas halaman kamusnya.

∆∆
Di dalam rumah, jenazah ayahnya terbujur. Enong memeluk ibunya. Ia tak bisa lagi menangis.
Pulang dari pemakaman, Enong heran melihat banyak orang memandanginya. Syalimah dan anak-anaknya mengantar pelayat terakhir ke pekarangan.
Subuh esoknya, Syalimah lekas-lekas abnmgun mendengar panggilan azan. Ia ke dapur dan menanggar air. Ketika meniup siong untuk menhidupkan kayu bakar, ia tersentak karena sebuah kesenyapan. Ia baru sadar, untuk siapa ia menyeduh kopi? Suara suaminya menhaji Alqur’an saban subuh telah menemaninya menghidupkan api dapur selama belasan tahun. Syalimah duduk termangu, berkali-kali ia mengusap air matanya.

∆∆
Sekarang tulang punggung keluarga telah tiada. Beras pun telah habis bahkan beras dari para pelayat juga habis utuk menyambung hidup Syalimah, Enong, dan ketiga adiknya.
Ia gamang memikirkan apa yang dikatakan orang tentang anak tertua. Namun, ia bahkan belum sepenuhnya mengerti makna kata tanggung jawab. Apakah ia harus berkerja? Tapi, bagaimana dengan sekolahnya? Ia sangat mencintai sekolah. Sekarang ia paham mengapa waktu itu banyak pelayat memandanginya.
Enong tahu beberapa anak [erempuan tetangganya pergi ke Tanjong Pandang. Menjadi tukang cuci atau menjaga toko. Ia berusaha meyakinkan ibunya bahwa ia bisa bekerja. Apa susahnya menjaga toko? Katanya.
Syalimah semula menolak. Putrinya taknpernah sekalipun meninggalkan kampong, kini harus berjuang menghadapi hidup yang keras di kota.
***
Dulu, aku menandai, kalau hujan pertama musim hujan turun pas pada 23 Oktober, dan sore, pasti kampungku akan tampak lebih mempesona. Jika hujan pertama pada musim hujan turun pada 23 Oktober, ia akan mengguyur dengan teratur, usai asar biasanya, lembut, berkawan, adakalanya syahdu.
Lambat laun, teori itu berubah menjadi semacam godaan. Aku sering meyakinkan  diriku sendiri untuk memeprcayai sesuatu yang dibangun di atas logika yang aneh. Aku, alam, dan hujan pertama, telah membentuk semacam sekongkolan, yang begitu ganjil sehingga di dunia ini, hanya aku yang boleh tahu
 Syalimah tak kuasa menahan air mata untuk menyiapkan tas Enong yang akan pergi ke kota. Enong menyimpan semua bukunya kecuali Kamus Bahasa Inggris Satu Miliar Kata hadiah dari ayahnya. Sebelum berangakt Enong akan mengucapkan perpisahan pada teman-temannya.
Di lapangan telah menunggu Nuri, Ilham, Nizam, dan Naila. Ilham hanya diam. Enong dan Ilham saling menyukai dengan cara yang tak bisa mereka jelaskan. Ketika akan berpisah, keduanya merasakan kehilangan, juga dengan cara yang tak dapat mereka jelaskan. Anak-anak itu bergandengan tangan dan menangis.
Tiba di Tanjong Pandan, ternyata tak semudah apa yang dikira Enong dalam mencari pekerjaan. Sering ia diusir dengan kasar. Yang dibutuhkan kebanyakan adalah sarjana, lulusan SMA, perempuan cantik dan hal-hal semacam itu. Sementara Enong, tampilannya saja seperti orang akan khatam Qur’an, jilbabnya lusuh. Uang tujuh ratus rupiah yang telah di hemat sekuat tenaga akhirnya habis juga.
Kemudian Enong melihat seorang Tionghoa tua termangu di depan tokonya yang hamper bankrut. Ia menawarkan tenaganya untuk bekerja.
“Maaf, Anak Muda, aku ingin sekali membantu, tapi toko ini mau gulung tikar.” Enong pamit dan beranjak. Bapar tua itu menyodorkan tangannya.
“Ambillah ini, sedikit uang, untuk ongkos pulang ke kampung.”
Enong berusaha menolak tapi bapak itu memaksa.
“Terima kasih, Ba, suatu hari nanti kita akan berjumpa lagi. Akan kukembalikan uang ini.”
Langit menyaksikan semua itu.
Enong kembali dari Tanjong Pandan dan mendapati keadaan rumahnya yang amat menyedihkan. Enong semakin kalut. Di Tanjong Pandan saja sulit mencari pekerjaan, apalagi di kampung.
Sore itu, ia mengambil sepeda dan mengayuhnya keluar kampung untuk melrikan perasaannya yang sedang risau. Diselusurinya padang dan bukit-bukit pasir. Lalu, ia melamun di pinggir danau. Ia hamper pada tahap putus asa. Ia membasuh wajahnya yang berlinang air mata. Di pandanginya tubuhnya yang berpendar di atas permukaan air yang bisu. Ditatapnya lekat-lekat matanya yang basah. Kemilau kuarsa di dasar danau membuatnya terpesona dan satu ide menamparnya. Ia berlari menuju sepedanya dan pontang-panting pulang.
Sampai dirumah, ia mengambil pacul dan dulang milik ayahnya dulu, lalu segera kembali ke danau. Ia menyingsingkan lengan baju, turun ke bantaran sungai, dan mulai menggali lumpur. Ia mengumpulkan galiannya ke dalam dulang, mengisinya dengan air, dan mengayak-ayaknya. Sore itu, pendulang timah perempuan pertama di dunia, telah lahir.
***
Banyak pria-pria pendulang timah lain heran, ingin mengejeknya namun, sekaligus takjub karena perempuan yang belum genap berumur 14 tahun mampu menjadi pendulang timah.
Bersemangat setelah mendapatkan timah pertama, Enong semakin giat bekerja. Ia tidak tahu, di pasar, di belik gelapnya subuh, pria-pria bermata jahat di tempat juru taksir itu telah bersiap membuntutinya. Mereka ingin mengintai lokasi timah Enong.
Enong melintas riang sambil menyiulkan lagu If you’re happy and you know it, clap your hands. Lima pria itu mengikuti Enong dengan cermat dan bersepeda di belakangnya. Enong memasuki jalan menuju hutan, kelima pria itu berpencar.
Siang itu, ketika tengah menggali tanah, Enong mendengar salak anjing. Salak dari begitu banyak anjing. Ia berbalik dan terkejut melihat beberapa orang pria berlaei menyongsongnya dari pinggir hutan sambil mengacung-acungkan parang, panah, dan senapan rakitan. Mereka berteriak-teriak mengancam dan melepaskan tali yang mengekang leher belasan anjing pemburu.
Enong berlari sekuat tenaga. Tak perduli kakinya yang tak beralas kaki itu berdarah karena duri dan ranting-ranting pohon yang tajam. Enong berada pada saat yang tak bersahabat. Ia di hadang oleh jurang yang curam dan di bawahnya adalah sungai yang cukup deras alirannya.
Tak ada pilihan lain, Enong pun melompat ke jurang. Terbawa arus, atau mati terbentur batu di sungai lebih baik daripada di bunuh dan di perkosa oleh pria-pria itu.
Enong lolos dari orang-orang yang memburunya. Kepalanya terhempas di dasar sungai. Ia pingsan. Arus yang deras mengombang-ambingkannya sekaligus membuatnya terlepas dari incaran buaya. Ia terlonjak-lonjak menuju hilir. Ia masih bernapas. Kejadian itu telah membuat trauma bagi Enong.
***
A Ling menghilang. Mungkin ia tak mau lagi menemuiku. Tapi aku ingin menemuinya, meski hanya sekali. Apalagi beritanya A Ling akan menikah dengan seorang lelaki Tionghoa, tinggi, putih, dan ganteng bernama Zinar. Aku bukan apa-apanya. Aku ingin mendengar langsung dari mulut mungilnya bahwa ia akan menikah dengan Zinar.
Bisa dibilang, Zinar adalah seorang lelaki idaman para wanita. Bagaimana tidak? Selain putih, tinggi, dan ganteng, ia mempunyai toko pula. Sementara aku, pengangguran, pendek, hitam. Tak layak sepertinya untuk mendapatkan seorang A Ling. Tapi aku layak punya cinta.
Ibuku pun selalu memarahiku karena tidak punya pekerjaan.
“Na! pulang juga akhirnya kau, Bujang! Kena batunya kau, ya, kudengar dari Mualin syahbana kau mau melarikan anak perempuan orang ke Jawa!  Benarkah itu?”
Alisnya naik macam pedang.
“Elok nian tabiatmu! Apa kau sangka cinta bisa ditanak?”
Aku terpaku.
“Sampai bersayap mulutku bicara, cari kerja sana! Melamar jadi pegawai pemerentah. Pakai baju dinas, banyak lambing di pundaknya, aih, gagahnya, dapat pengsiun pula!”
Aku menunduk.
Ibu mendekatiku. Aku gemetar.
“Melarikan anak orang? Tak ada pengajaranku semacam itu! Tak dapat kuterima itu!”
Telah hafal aku sejak kecil dulu. Kalau Ibu sudah sampai pada Tak ada pengajaranku semacam itu! Tak dapat kuterima itu! Itu pertanda akan segera terjadi gencatan senjata. Aku menunggu, ibu diam saja, ia berbalik dan membelesakkan sirih ke dalam mulutnya.
Rencana A hidupku, yang kuikrarkan dulu waktu masih SD, telah gagal. Rencana B juga berntakan. Inilah saatnya aku beranjak ke Rencana C : ke Jakarta, mencari kerja.
Aku mau pergi ke kantor pos untuk mengirim surat-surat lamaran ke perusahaan-perusahaan di Jakarta. Dan ketika tengah menempel-nempelkan perangko, nasib mempertemukanku dengan Enong.
Saat itu ia repot membolak-balikkan sebuah kamus. Aku tertawa di tambah dengan tulisan pada kamus itu ; Kamus Bahasa Inggris Satu Miliar Kata: 1.000.000.000 kata. Hebat betul. Agaknya Enong tak berhasil menemukan kata yang ia cari. Ia mngeluarkan sebuah buku dalam tasnya dan mengeja sebuah huruf. Kerna sangat dekat denganku, dapat kulihat kata di halaman buku yang kumal itu : wound.
“Perlu kau pesan kamus yang baru, Nong.”
“Aku akan memesannya, Tuan Pos. pasti.” Jawabnya gembira.
“Luka, Kak,” kataku.
Enong terkejut dan menoleh padaku.
“Apa katamu, Boi?”
“Luka, arti kata itu adalah luka.”
“Na! kau bisa bahasa Inggris?”
“Bisalah sedikit.”
“Apa katamu tadi?”
“Luka, Kak, wound, artinya luka.”
Matanya yang polos berbinar-binar. Aku terseret semangatnya. Kemudian, ia mengeluarkan sepucuk surat dari dalam tasnya.
“Surat ini dari sahabat penaku, Minarni, di Jawa. Ada kalimat bahasa Inggris di sini. Aku ingin sekali tahu artinya, tolonglah.”
Kubaca surat yang panjang itu dan pada baris terakhir : Time Heals Every Wound.
“Ini kalimat yang bagus, Kak. Artinya, waktu akan menyembuhkan setiap luka.”
Enong menatapku.
“Bemarkah?”
“Benar, Kak, waktu akan mnyembuhkan setiap luk, itulah artinya.”
Enong senang sekaligus sedih.
“Bukan main, Boi. Bukan main.”
Pertemuan dengan Enong berlanjut dengan obrolan panjang tentang mintanya akan bahasa Inggris. Ia suka sekali katalog. Tuan pos suka memberinya katalog-katalog pada Enong. Terlebih yang di dalamnya terdapat kata-kata bahasa Inggris. Kemudian, ia menunjukkan sebuah katalog yang menawarkan kursus bahasa Inggris padaku.
Aku menerima surat dari Grace—sobat kentalku dari Jakarta bahwa aku di panggil sebuah perusahaan untuk wawancara. Aku memakai alamat Grace sebagai alamat korespondensi. Grace menulis untukku :
“Cepat-cepat jo ngana datang kamari. Ada tawaran wawancara for ngana ini. Mar kalu ngana dapa, bisa cepat kaya ngana.”
***
Mendengar ada tawaran wawancara untukku di Jakarta, mungkin inilah saatnya aku pergi. Betapapun beratnya. Kukuatkan perasaanku dengan mengingat bahwa Zinar, dengan cara apapun, takkan dapat kusaingi.
Hari ini, aku, Detektif M. Nur, dan Enong bersama-sama pegi ke Tanjong Pandan. Tujuan ku dan Detektif adalah ke dermaga, pergi ke Jakarta. Tujuan Enong : mendaftarkan diri ke kursus bahasa Inggris yang tidak ketinggalan zaman itu. Inilah saatnya, kata hatiku. Inilah perpisahan yang menyakitkan itu.
Turun dari bus Enong berjalan cepat-cepat menuju pusat kota untuk mendaftarkan diri ke kursus bahasa Inggris. Aku dan Detektif M. Nur mengambil dua kamar untuk menginap dan kemudiam berangkat esok hari ke Jakarta. Detektif sepertinya tak tega meninggalkan ibunya sendirian. Masih di elusnya foto ibunya. Sepertinya ia tak tega meningalkannya.
Teman-temanku kini sudah mendapatkan pekerjaan. Hanya aku yang masih menganggur. Salah satu temanku, Naomi member tahuku tentang Ninockha Stronovsky, seorang pecatur perempuan yang berhasil meraih gelar grand master.
Esok hari aku dan Detektif bersiap berangkat ke Jakarta. Tapi sampai di dermaga, ku mantapkan untuk tidak jadi pergi. Kusuruh Detektif yang pergi saja. Ia tak mau.
“Maaf, Boi, ini bukan karena ibuku ….”
Aku terkejut tak kepalang.
“Jadi, karena siapa kau tak mau pergi!? Siapa yang tak tega kau tinggalkan!?”
Detektif mengangkat wajahnya.
“Jose Rizal, Boi.”
***
Kemarahan ibu tak terelakkan. Aku hanya dapat meredakannya dengan mengatakan aku akan bekerja apa saja asal diberi kesempatan untuk paling tidak mengalahkan Zinar main catur. Aku pun bekerja di warung kopi milik pamanku dan mulai belajar bermain catur demi mengalahkan Zinar. Tentu yang akan mengajariku bermain catur adalah Ninockha Stronovsky.
Aku pun menjelaskan detail Rencana D itu. Aku pergi ke warnet di Tanjong Pandan dan mulai chatting dengan Nockha. Diberinya sebuah diagram dengan penjelasan-penjelasan bagaimana mulai melangkah dan beberapa tekhnik bermain catur padaku. Nockha menyuruhku mengintai permainan lawan yang akan ku hadapi dan menggambarkannya pada diagram tersebut kemudian mengirimkannya padanya. Nockha akan membertahu strategi apa yang harus di lakukan.
Mendengar kata intai dari kata-kata Inggris yang kuterjemahkan untuknya, alis Detektif naik turun.
Yang melakukan pengintaian terhadap Zinar adalah Detektif M. Nur. Kemudian ku kirimkan diagram hasil pengintaian detektif terhadap Zinar pada Nockha dan sejenak Nockha pun memberiku apa yang harus kulakukan nanti saat melawan Zinar.
Kejuaraan 17 Agustus pun tiba. Aku akan melawan Zinar. Aku yang pertama melakukan pembukaan. Aku pun melakukan pembukaan Spanyol seperti yang diajarkan Nockha padaku. Awalnya aku yakin pasti Zinar akan melangkahkan pion ke depan rajanya, tiga langkah, klasik, dan sangat biasa.
Namun fakta berkata lain. Hanya delapan langkah yang sama sekali tak kukenali, aku kalah. Zinar memang hebat. Kusalami ia atas kemenangannya sebagai seorang lelaki gentleman. Kutelan pil pahit itu dalam-dalam, pahit sekali.
Aku kembali menyusun rencana yang kali ini adalah Rencana E. Nomor pertama dari rencana E adalah mengirimkan kembali surat-surat lamaran pekerjaan ke Jakarta.
Di kantor pos aku diberi sepucuk surat oleh Tuan Pos dari Grace. Isinya dia marah-marah karena aku tidak datang ke Jakarta. disitu aku bertemu Enong. Ia meminta bantuanku membuat sebuah puisi yang nanti akan di terjemahkan dalam bahasa Inggris. Awalnya aku menolak tapi dia memaksa dan akhirnya aku membuatkannya sebuah puisi. Di keluarkannya buku dan pulpen dari dalam tasnya. Kemudian aku mulai mengeluarkan kata-kata yang aku sendiri tidak tahu dari mana asalnya.

Bulan di atas kota kecilku yang ditinggalkan zaman

Enong cepat-cepat menulis judul itu. Aku meneruskan puisi itu sambil memikirkan bait demi bait selanjutnya dengan melihat sekeliling dan dirirku sendiri.
Tak lama kemudian, Enong pun menunjukkan hasil terjemahan puisinya padaku dan terselip surat dari Bu Indri, guru Enong untukku.
Kubaca:
Kak Enong yang menerjemahkan puisinya dan saya membantunya. Maaf, saya telah mengganti beberapa bagian, bahkan menambahinya, agar berima dalam kalimat bahasa Inggris. Ini semacam terjemahan bebas saja. Saya adalah pecinta puisi. Saya juga senang menulis puisi. Saya punya buku puisi koleksi pribadi. Saya harap suatu hari kita bisa berjumpa untuk membaca dan ngobrol tentang puisi.
Bu Indri sering mengirimkan surat padaku. Tentu saja lewat Enong. Ia mengirimkan puisi-puisi karyanya. Ia sangat berbakat.
***
Sore itu tiba-tiba A Ling datang ke rumahku. Betapa gembiranya aku dapat melihatnya. A Ling menjelaskan bahwa kenapa ia tiba-tiba menghilang karena ia mengikuti tradisi orang Tionghoa jika akan menikah. Berdasarkan tradisi haruslah rahasia karena menyangkut kehormatan dua keluarga.
Ia pun menyerahkan undangan untukku dan ayahku agar hadir  acara perkawinan Zinar esok sore. Kulihat ia mengusap air mata dengan lengannya. Sejak kecil aku tak mampu berpaling ke perempuan lain. Kugenggam jemariku sendiri yang gemetar. Betapa aku sayang pada orang ini.
***
Acar perkawinan itu berlangsung menarik. Kulihat A Ling berdiri sendiri di ujung beranda. Aku menghampirinya. Kuberikan puisi yang dulu aku buat pertama kali untuknya saat aku masih SD. Ia membuka dan membacanya. Sesekali ia menarik napas dan terhenti. Terpana dan menunduk. Lalu, ia manatapku. Kemudian, ia membaca lagi puisi itu pelan-pelan. Ia membacanya sambil tersenyum, namun matanya berkaca-kaca.
Perkawinan Zinar bak ritual yang penuh perlambang itu usai. Zinar pun meminta Bang zaitun untuk menyanyikan lagu “Morning Has Broken”. Setelah usai, hadirin pun bernyanyi lagu “Selayang Pandang”.
Kemudian, di antara ingar-bingar itu, kudengar suara gemeretak di atas atap. Titik hujan turun berinai-rinai menghujani kampungku. Hatiku girang tak kepalang. Aku melompat dan bergabung dengan orang-orang yang berdendang di pekarangan meski hujan mulai turun.
Seperti impian diam-diamku selalu, hujan pertama jatuh tepat pada 23 Oktober sore, pada hari kudapatkan lagi A Ling dan ayahku. Hujan membasahiku. Kurentangkan kedua tanganku lebar-lebar. Aku mengadah dan kepada langit kukatakan: Ini aku! Putra ayahku! Berikan padaku sesuatu yang besar untuk kutaklukan! Beri aku mimpi-mimpi yang tak mungkin karena aku belum menyerah! Tak kan pernah menyerah! Takkan pernah!


TAMAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar