Minggu, 28 September 2014

NASKAH DRAMA

Ini adalah pagi yang cerah. Mita dan Doni, dua orang siswa kelas VII yang sedang asyik membaca-baca buku Biologi di koridor sekolah. Pasalnya nanti siang akan ada ulangan harian mata pelajaran tersebut. Kemudian Anggi datang, sahabat mereka.

Anggi              : “Mit, Don, rajin sekali kalian berdua!”
Mita                : “Iya dong, tugas kita sebagai pelajar kan memang harus belajar. Hehehe…”
Anggi              : “Iya juga sih. Eh ngomong-ngomong kalian tahu nggak, bakal ada murid baru di kelas kita hari ini.”
Doni                : “Oh ya? Siapa namanya? Laki-laki atau perempuan?”
Anggi              : “Laki-laki, tapi aku juga belum tahu siapa namanya.”

***
[Bel sekolah berbunyi]

Mita                : “Eh ayo masuk kelas, udah bel tuh!”
Anggi & Doni : “Oke”
[Ketiganya pun memasuki ruang kelas. Ibu guru masuk bersama seorang murid baru.]

Ibu Guru         : “Selamat pagi, anak-anak. Hari ini kita kedatangan teman baru dari Aceh,  ia akan menjadi teman sekelas kalian. Silakan perkenalkan dirimu, nak!”
Ridwan           : “Selamat pagi, teman-teman. Nama saya Muhammad Ridwan. Saya berasal dari Aceh.”

Mita                : (Berbisik pada Anggi)
                          “Jauh sekali ya, dari Aceh pindah ke Bandung!”
Anggi              : (Anggi hanya mengangguk tanda setuju).
Ibu Guru         : “Ridwan, kamu duduk di belakang Doni ya”
                           (menunjuk sebuah meja kosong).
[Ridwan segera duduk di kursi yang disediakan]
Ibu Guru         : “Ya baiklah, sekarang kita mulai pelajaran hari ini. Buka buku kalian di halaman 48.”
[Pelajaran pun dimulai]
***

Tiba saatnya jam istirahat. Ridwan yang belum memiliki teman, diam saja duduk di kursinya sambil menunduk. Rupanya belum ada yang mau mendekati Ridwan. Semua siswa di kelas itu masih sungkan dan hanya mau tersenyum saja padanya tanpa berani mengajak ngobrol lebih lanjut.

Doni                : “Psst.. Mit, Nggi, coba lihat anak baru itu, sendirian aja ya!”
                          (berbisik pada Mita dan Anggi saat mereka baru kembali dari kantin)
Mita                : “Ayo kita dekati saja.”
                           (Ketiganya menghampiri Ridwan)
Anggi              : “Hei, Ridwan. Kenalkan aku Anggi, ini Ridwan dan Mita”
                           (menunjuk kedua temannya)

[Ketiganya duduk di sekeliling Ridwan]

Ridwan           : “Hai, salam kenal.”
Doni                : “Kamu kok tidak jajan ke kantin?”
Ridwan           : “Ehm.. Aku bawa bekal makanan
                           (Pelan sekali, sambil tertunduk).
Mita                : “Oh begitu, rajin sekali kamu, Wan!

[Keempat siswa ini mulai terlibat obrolan ringan sehingga Ridwan merasa ditemani]

***
Saat jam pulang sekolah, Ibu Guru memanggil Anggi dan Doni yang hendak pulang ke rumah.

Ibu Guru         : “Anggi, Doni! Ke sini sebentar. Ibu mau menanyakan sesuatu.”

[Anggi dan Doni berjalan menghampiri Ibu Guru]
Doni                : “Ada apa, Bu?”
Ibu Guru         : “Itu, bagaimana perilaku Ridwan di kelas? Apakah ia bisa membaur?”
Doni                : “Dia agak pendiam, Bu. Dan suka menunduk saat berbicara.”
Anggi              : “Tadi pas jam istirahat, kami berdua dan Mita berusaha                                                 mendekatinya. Kami mengobrol cukup lama, ia anak yang baik kok, hanya saja ia seperti agak kurang percaya diri dan minder.”
Ibu Guru         : “Hmm… begitu ya. Anak-anak, Ridwan adalah salah satu korban selamat tragedi tsunami Aceh beberapa tahun yang lalu. Kedua orang tuanya tewas terhempas ombak. Kini hanya tinggal ia dan adik perempuannya, namanya Annisa. Ia masih yang duduk di kelas 4 SD.
Anggi              : “Ya Tuhan, sungguh berat cobaan yang menimpanya…”
Ibu Guru         : “Iya. Untungnya, seorang pamannya tinggal di Bandung. Sehingga ia dan adiknya tinggal di sini. Mereka tergolong masyarakat prasejahtera, sehingga Ridwan benar-benar harus berhemat.”
Doni                : “Oh pantas saja tadi jam istirahat ia tidak ke kantin.”
Ibu Guru         : “Ya sudah, Ibu cuma mau bilang begitu. Kalian berbaik-baiklah                                  dengannya. Temani dia agar tak merasa kesepian dan terus berduka.”
[Anggi dan Doni kemudian pamit untuk pulang]

***
Di rumahnya, Doni terus menerus memikirkan teman barunya, Ridwan. Akhirnya ia mendapatkan suatu ide. Dikabarkannya Anggi dan Mita melalui SMS. Keesokan harinya di jam istirahat..

Doni                : “Eh, kalian membawa apa yang aku bilang kemarin, kan?”
Anggi & Mita : “Bawa dong. Ayo kita dekati Ridwan.”
[Mereka bertiga pun berjalan mendekati Ridwan]
Anggi              : “Ridwan, bolehkah kami bertiga makan bersamamu?”
Ridwan           : (Kikuk dan kebingungan) “Eh, um.. boleh saja..”

Doni, Anggi, dan Mita mengeluarkan bekal makanan mereka. Ketiganya juga membawa makanan camilan untuk dimakan bersama-sama, tentu saja Ridwan juga kebagian. Dengan makan bersama setiap hari, mereka berharap bisa membuat Ridwan lebih ceria. Setelah makan…
Ridwan           : “Terima kasih, teman-teman. Kalian sangat baik kepadaku.”
Mita                : “Kamu ini bicara apa, sih? Kita kan teman, wajar saja jika kita saling                             bersikap baik.”

Semenjak itu Ridwan menjadi semakin kuat karena dukungan teman-teman barunya. Siswa-siswa lain di kelas itu pun banyak yang bergabung membawa bekal untuk dimakan bersama-sama pada jam istirahat. Suasana menjadi semakin menyenangkan.


Seketika itu giliran aku yang bertanya ,apakah kamu bisa menjawab pertanyaan ku ini don (sambil bercanda).
“doni menjawab” oke serahkan saja semuanya padaku, Insya Allah aku akan menjawab semua pertanyaan mu.
Lalu aku bertanya “ Don kalau orang berjuang demi kemjuan dan kesejahteraan negaranya itu bagaimana”
    “ Doni menjawab ” contohnya sangat sederhana seperti seorang guru yang bersedia di tempatkan untuk mengajar di daerah terpencil demi mendidik anak-anak di negeri ini supaya pintar , polisi dan tentara yang di tugaskan di daerah konflik, pejabat dan pegawai pemerintah yang mau bekerja keras demi memajukan daerahnya dan atlit-atlit berprestasi juga bisa dikatakan berjuang demi negeri tercinta ini dan masih banyak lagi contoh-contoh lainnya.
     Setelah bertanya tatkala itu aku teringat kepada cita-cita ku yang berkeinginan menjadi tentara .
“lalu aku bertanya” don kalo boleh tahu cita-cita mu apa?
Aku ingin menjadi seorang penulis dan sastrawan yang terkenal .
Berarti beda ya sama aku .aku ingin menjadi seorang tentara , jika aku menjadi seorang tentara aku akan mencintai tanah air ini dan bersedia di tempatkan di plosok penjuru nusantara ini demi pengabdianku.
Doni berkata ,wah hebat kamu semoga cita-cita muliamu ini bisa di kabulkan oleh sang pencipta .amin.
“lalu aku menjawab “ iya don terima kasih atas doanya ,semoga cita-cita kamu juga terkabulkan .amin,
Ketika kami ngobrol andi malah asik bermain game di psp nya .pantesan ga mau giliran Tanya (kata ku).

    Tak terasa pembicaraan kami sudah berlangsung satu jam ,tatkala itu malam semakin gelap dan suara-suara hewan malam bernyanyian dengan nyaringnya seolah ingin menunjukkan malam yang semakin panjang .tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 20.00 wib dan kami bergegas pulang karena takut akan kemalaman.
Ketika itu aku mengajak mereka pulang “ayo teman-teman kita pulang”
    Lalu andi menjawab “kalian pulang duluan aja entar aku nyusul ini game nya sudah hampir tamat nih.(sambil bermain portable nya ) seolah Andi tidak mau pulang.

     Ya sudah andi kami pulang dulu.hati-hati ya teman-teman (kata andi).
Iya andi kamu jangan lupa belajar, katanya ingin memajukan negeri tercinta ini kamu jangan bermain game saja.
Dengan seriusnya Andi bilang iya teman-teman saya akan berubah dan saya akan belajar lebih giat lagi ." Kalian duluan ya .. " kata Andi, lalu kujawab " Iya .. "
    Sampai jumpa lagi.akhirnya aku dan doni pulang menuju rumah masing-masing dan kami berpisah di perempatan jalan gang di kampung kami. Aku bertanya kepada Doni, Don terimakasih ya atas pengetahuan nya tadi.

‘’Doni menjawab’’ iya sama-sama teman ,sampai jumpa besok yaa.
Aku menjawab " iya selamat malam "


Selesai

Tidak ada komentar:

Posting Komentar